Apa itu cinta? Apa itu cinta? Apa itu cinta? Apa itu cinta? Apa itu cinta?
Jadi, apa itu cinta? Aku sendiri juga ga tau sih sebenernya apa... Ahahaha mungkin nih ya, mungkin, cinta itu adalah sebuah kata yang menggambarkan banyak makna. Kok bisa? Bisa aja, contohnya, kalau kalian lagi bahagia karena suka sama seseorang, itu cinta, kalau kalian lagi makan coklat sambil senyum-senyum sendiri, itu cinta, kalau kalian lagi dengerin musik sampai badan ikut kebawa alunannya, itu cinta, kalau kalian lagi lihat gebetan jalan sama orang lain trus jadi badmood, itu cinta, kalau kalian lihat orang yang kalian anggap berharga di hidup kalian lagi tersenyum bahagia karena kalian, itu cinta, kalau kalian ngelihat ibu-ibu yang lagi ngelahirin anaknya, trus tersenyum di atas rasa sakitnya waktu ngelihat bayinya lahir dengan sehat dan selamat, itu cinta, kalau kalian lihat tetangga kalian lagi tersenyum bahagia ngelihat anak dari pembantunya tetangga kalian itu berhasil jadi juara kelas di sekolahnya karena tetangga kalian itu yang ngebiayain sekolahnya, itu cinta. Jadi, cinta ga hanya didefinisikan sebagai perasaan suka terhadap lawan jenis, tapi sesama jenis juga bisa.....
Cinta juga ga kenal usia, mulai dari yang baru ceprot lahir sampai yang udah mau menghadap sang pencipta, cinta itu benar-benar adil ya :)
Bicara soal cinta nih, pasti ga bakal jauh-jauh amat dari kisah percintaan anak-anak muda yang sampai sekarang masih aja jadi primadona... Aku punya adik cowok, sekarang umurnya 5 tahun, dia bilang ke aku gini "kak, temenku yang namanya T itu cantik lho. Aku suka sama T." Jeduueerrr!! Yaoloh nak...kamu masih kecil kok udah begini. Waktu aku nyanyi lagu anak-anakpun dia ga tahu...
Aku: banyak-banyak makan jangan ada sisa, makan jangan bersuara..
Adik: sisa itu apa sih? Bersuara itu apa?
-___-
Aku: kamu tahu lagu yang barusan aku nyanyiin ga?
Adik: enggak.
Aku: kalau ini...lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia~
Adik: tahu.
-___-
Pengalaman deh, besok kalau udah jadi ibu (ceilah...) aku bakal dengerin anakku lagu anak-anak dan ga boleh nonton acara musik di tv sebelum dia lulus TK.(titik)
Balik lagi ke topik cinta. Sebenernya, di usiaku yang ke-18 ini, aku tergolong orang yang ga terlalu ngurusin sama apa yang namanya punya pacar, punya gebetan aja enggak. ahahahaha-ha-ha-a. Sayangnya, ketika temen-temen aku punya masalah sama percintaan mereka, mereka pasti nanya solusinya ke aku. Ya udah aku jawab sebijak aku aja hahaha ga ga.. Aku sebisa mungkin tetep bantu mereka dengan segala pengalaman yang udah pernah aku alamin atau lihat, supaya endingnya bisa bagus.
Ups, did I say pengalaman? Yeah you're so thorough b(^,^) (padahal dia sendiri yang pengen ngomong . . . )
Dimulai dari kisah cinta pertama :)
Jadi ceritanya itu dimulai ketika aku kelas 2 SMP. Kaget ga? Hahaha iya, itu seriusan, jangan itung masa SD, karena itu cuma tahapan main-main dan kita sebut cinta monyet. Dia, angep aja si X, satu kelas sama aku, kebetulan waktu awal masuk sampai akhir semester satu, kita duduk sebelahan. Tapi waktu itu belum ada perasaan apa-apa, soalnya dianya cuek, aku juga cuek! Nah lo. Tepatnya waktu semester dua, mungkin karena aku lihat dia dari kejauhan ya, aku mulai ada something gitu (hahhaha apaan sih) dan cuma satu teman dekat aku yang tahu hal ini. Waktu dia tanya alasan aku suka sama si X, aku bilang karena alisnya. Aku suka cowok yang alisnya bagus (hehe). Akhirnya sampai kelas 3 SMP, aku cuma pendam perasaanku ini, kita udah ga satu kelas lagi, tapi kelas kita sebelahan. Setiap hari, kalau ketemu dia, aku pasti merhatiin dari jauh dan sok cuek waktu lewat. Endingnya pas udah lulusan SMP, kita ketemu lagi di SMA yang sama. Minggu-minggu pertama sekolah di sana, aku baru tahu kalau ternyata dia udah pacaran sejak kelas 3 SMP dan pacarnya juga satu sekolah lagi sama dia. Heart breaker banget nggak sih ini? Yah awalnya sih iya, apalagi waktu ketemu sama pacarnya waktu di lorong sekolah, bawaannya pengen maki dia, macam dia itu perusak hubungan impianku selama 1,5 tahun. Tapi suatu hari, dia mention di twitter aku, minta folbek -__- nah mulai dari situlah akhirnya aku musnahin perlahan-lahan rasa benciku sama dia gara-gara jeles yang nggak jelas ini. Puncaknya, waktu kelas 2 SMA, ada pemilihan pengurus OSIS baru dan aku ikut. Pas technical meeting, aku ketemu si X di tangga depan kelas, trus dia tiba-tiba ngomong "loh, kamu juga ikut osis?" ya aku jawab "iya" aja gitu... Nah yang paling menggemparkan itu waktu udah pelaksanaan pelatihannya. Jadi ada game di mana kita, satu tim harus menyusuri kotak-kotak vertikal gitu hanya menyisakan satu kotak buat tempat tukerannya. Aku satu tim sama dia, terus waktu kita udah nyoba terus, akhirnya nemu cara yang tepat. Dia langsung arah-arahin gitu, trus tiba-tiba aku disuruh maju satu kotak dan tau ga?? Aku jadi berdiri tepat di depannya! Berhadapan! Jarak cuma 25 cm! Frozen! Cinderella! Snow White! Mickey Mouse!!! (-_-)
Jadi itu moment ter-epic, ter-lama, ter-dekat, dan ter-akhir aku sama dia. Setelah itu, uhm...sebenernya sebelum ikut pelatihan itu, aku udah biasa aja sih sama dia, berusaha ngelupain angan-angan yang ga bakalan terwujud gitu, eh tapi malah dikasih beginian.....HAHAHA ya udah, terus setelah selesai pelatihan itu sampai sekarang pun sikapku biasa aja sama dia, temen sejak SMP sampai SMA, gitu aja sih titelnya :)
Setelah cinta pertama, kita mau ngomongin apa? Cinta kedua? O ow... Adakah?
Haha ada kok... Ups.
Sebenernya ga cocok disebut cinta kedua, lebih tepatnya disebut cinta tak terduga..
Jadi kita udah kenal sejak lama dan ternyata dia, sebut aja Z, itu suka sama aku, tapi akunya ga suka HAHAHA terhitung tiga tahun dia nunggu buat bisa ketemuan, trus kenal lebih jauh lagi, dan lagi-lagi akunya biasa aja, cuek malahan, karena emang aku ga suka dia. Terus PDKT se-tahun, akhirnya aku ngerasa dia cukup asyik juga orangnya, tapi tetep, aku ga suka dia. Sebenernya aku memang ga suka tipe orang yang terlalu perhatian, karena aku mandang itu sebagai pemanjaan. Sedangkan aku orangnya cuek. Misalnya nih, setiap hari sms buat nanyain kabar/kegiatan hari itu, kan males gitu lho. Urusin aja hidup lo sendiri, aku masih bisa urus hidupku sendiri. Akhirnya jalan tuh selama beberapa bulan dan endingnya dia ngajak ketemuan. Aku udah persiapan dulu, karna aku tahu endingnya dia pasti bakal tembak aku. Nah bener, dia tembak aku. Aku ngomong tuh kata-kata yang udah aku siapin, kalau aku belum bisa suka sama kamu sebagai pacar, tetapi masih sebatas teman dengan simpulan: ya, aku coba. Dianya setuju aja, karena mungkin dia yakin kalau setelah jadian, kita bakal lebih deket dan perasaanku ke dia akhirnya muncul. Di saat itulah pertama kalinya tanganku digandeng seorang cowok, apalagi yang namanya pacar! Pangkal kepalaku dielus layaknya anjing (loh salah), ya kaya gitu lah pokoknya, dan itu terjadi hanya dalam waktu beberapa menit. Kebayang ga tuh, aku yang masih polos nan lugu, baru ngerasain punya pacar pertama kali, langsung dalam hitungan menit udah skin-ship gitu. Hahaha mana lantai mall-nya nyetrum lagi...
Karena kita ada jarak kota dan sama-sama masih sekolah, jadi kita harus LDR-an. Setiap hari dia sms, sama kaya waktu PDKT dulu. Hampir se-bulan jalan, aku udah ga betah. Rasanya malah tambah parah. Aku ga bisa bener-bener ngerasain apa itu yang namanya punya pacar. Bulan berikutnya aku jarang, atau pernah ga bales sms dia sama sekali. Dia jadi bingung, sebenernya aku ini kenapa, aku sendiri juga bingung. Akhirnya setelah tiga bulan berlalu, aku mutusin buat ngomong semuanya lewat BBM. Aku ngomong kalau sampai saat itu perasaanku ke dia masih sama, aku ga bisa ngerasa nyaman punya status sama dia, aku ngerasa hubungan kita itu belum saatnya. Setelah ngetik itu semua, aku menghela napas, takut kalau komentar dia negatif atau marah sama aku. Ternyata enggak, dia malah ngehargain keputusan aku. Dia malah bilang makasih udah mau nunggu selama tiga bulan buat nemuin rasa itu, makasih udah mau jadi pacar dia meskipun dia tahu kalau endingnya mungkin bakal gini, dan kata-kata dia yang bikin aku menyesal dan jadi tumpuanku sampai saat ini: "lain kali kalau ada cowok yang suka sama kamu dan nyatain cintanya ke kamu, kamu harus jawab jujur dengan sepenuh hatimu. Kalau kamu suka, ya bilang suka, kalau kamu ga suka, ya bilang aja kalau kamu ga suka, jangan maksain diri kamu buat suka sama dia, karena perasaan itu ga bisa dibohongin. Dan kalau kamu terpaksa ngelakuin hal itu buat ngebahagiain cowok itu, lain kali jangan, karena endingnya cowok itu bakal tersiksa dan sakit hatinya." Aku berpikir, mungkin ini yang dia rasain sekarang, perumpamaan cowok itu adalah dirinya sendiri yang saat itu lagi kesakitan hatinya karena aku. Kita ga putus, karena ga ada yang memutuskan, tapi kita memutuskan untuk menyudahi hubungan itu.
Endingnya tragis ya?
Terus ga lama kemudian dia punya beberapa pacar baru. Waktu aku tahu itu, hatiku mulai berontak, kaya ada perasaan ga rela kalau secepat itukah dia ngelupain aku? Tapi setelah aku pikirin, ngapain gitu loh aku ngerasa kayak gitu, toh dia juga udah bukan siapa-siapaku lagi kan? Ya udah, trus aku berusaha buat bisa merelakan dan melupakan gitu, meskipun itu harus aku jalani selama kurang lebih 1,5 tahun, tapi thanks to him, aku jadi lebih kuat dan mudah menghargai orang lain :)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jadi intinya, meskipun kamu mengejar seseorang demi perasaan kamu, namun akhirnya gagal dan kamu memutuskan untuk berhenti, itu adalah suatu pelajaran agar lain kali kita harus bertindak, ga cuma diam saja dan menunggu orang itu datang menemuimu.
Dan, ikutilah kata hatimu, karena ia tahu yang terbaik buatmu. Jangan kamu paksa dia untuk mencintai seseorang yang tidak kamu cinta, karena suatu saat kebenaran itu akan terungkap dan salah satu atau kalian semua akan merasakan sakitnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oke, aku bohong. Aku punya gebetan kok hahaha, yakali jaman sekarang ga punya gebetan?
Jadi ceritanya kita satu sekolah waktu SMA, pertama kali ngelihat dia itu bawaannya pengen gimanaaaa gitu loh.. Habis dia itu badannya cungkring tapi tinggi. Kata-kata pertama kali yang terlintas di kepalaku itu "ini orang kok badannya ga proporsional gini sih? Kaya ayam" Eh...karma does exist ternyata. Setelah dua tahun lihat ayam, sekarang berasa lihat cowok idaman.
Aku juga heran kenapa bisa tertarik sama dia, temen-temen aku juga pada bilang gitu, dan kita punya sebutan buat dia, si munyuk (monyet). Yah mungkin karena wajahnya yang unik itu yang bikin aku penasaran hahahah. Awalnya aku flashback nih tentang dua pengalaman percintaanku dulu itu, akhirnya aku mutusin buat maju duluan. Aku minta pin BBnya lewat temen aku. Nah pas udah dapet, tiba-tiba temen aku bilang gini nih "eh, kemarin dia tanya siapa yang minta pin dia, trus aku jawab kamu, trus dia nanya lagi, kenapa kok ga minta langsung aja ke aku, trus aku jawab, ya nggak berani lah, trus dia akhirnya ngebolehin aku ngasih pin-nya ke kamu" EBUSET!! Teman yang baik T.T gara-gara dia cerita gitu, aku ga berani nge-add pin dia sampai 3 hari loh hahahha malu. Dan akhirnya pas aku nge-add, aku tunggu beberapa menit, eh di-accept deh sama dia. Aku udah senyum-senyum sendiri tuh, trus aku diemin beberapa menit gitu, sambil bbm temen aku, berbagi kebahagiaan. Nah akhirnya aku nge-chat dia tuh, cuma sekedar ngomong "hi, thank you ya :)" yang keluar di layar apa coba? This contact does not exist. Mati aja dah gue T.T gue habis ditolak men, ditolak!! Sakiiiiiitt T.T
Dan semenjak itu, aku ga berani lagi buat maju duluan. Kalau maju duluan, berarti berani mati, dan sayangnya aku ga berani mati. Oke.
Terus, semenjak kejadian itu, tiap kali ketemu dia di sekolah, aku bersikap seolah aku bukan siapa-siapa (loh), aku bersikap seolah kejadian di-reject itu ga pernah terjadi, dan kejadian aku tertarik sama dia juga. Tapi sayangnya, waktu pelepasan kelulusan kemarin, kita eye-contact.
No no no....kupu-kupu jangan terbang!!
No no no....kupu-kupu jangan terbang!!
Best regards,
B.
B.
Comments
Post a Comment